Setiap guru tidak luput dari persoalan. Guru efektif tidak akan terbelenggu oleh persoalan, tetapi ia akan selalu berupaya mengubah persoalan menjadi tantangan dan peluang. Ia berupaya menjadi pengendali terhadap keadaan yang tidak menyenangkan dan bukan dikendalikan oleh keadaan yang tidak menyenangkan.
Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari. Demikian ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya profil pribadi seorang guru dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik. Pribadi guru yang baik atau buruk akan mewarnai sikap, pola pikir, dan tingkah laku siswa. Oleh karena itu, penting kiranya untuk memahami bagaimana menjadi guru yang efektif. Sebelum berbicara tentang guru efektif, ada pendapat Stephen R. Covey yang menyatakan bahwa ada empat ciri kebiasaan manusia efektif yaitu (1) berpikir proaktif, (2) memiliki tujuan yang jelas, (3) pandai membuat dan meentukan skala prioritas, (4) berpikir menang-menang, (5) senang bekerjasama, (6) memperhatikan orang lain dan (7) selalu belajar sepanjang waktu. Dari ketujuh ciri manusia efektif tersebut, dapat ditarik kesepadanan sebagai ciri-ciri guru efektif.
Guru efektif Berpikir Pro Aktif
Ciri utama seseorang dikatakan pro aktif adalah dia tidak menyerah pada suatu keadaan. Manusia efektif tidak terbelenggu oleh suatu kesulitan, ia mengubah kesulitan menjadi sebuah peluang baik dalam berkarir. Demikian juga halnya dengan profesi guru. Guru efektif tidak akan terbelenggu oleh persoalan, tetapi ia selalu berupaya mengubah persoalan menjadi tantangan dan peluang dalam berkarya.
Guru efektif tidak mencari kambing hitam terhadap ketidakberhasilan suatu pendidikan. Mereka selalu berupaya mencari jalan keluar dari suatu kesulitan. Dalam mengajar mereka berupaya menerapkan berbagai macam metode pembelajaran yang inovatif, dengan harapan siswanya dapat belajar dengan baik dan dapat mencapai kompetensi yang maksimal. Tidak cukup hanya metode pembelajaran yang inovatif, guru efektif juga memikirkan dan merancang media pembelajaran yang inovatif dan efektif yang digunakan sebagai sarana belajar siswa.
Sikap proaktif seorang guru yang efektif tidak terlepas dari daya kreativitasnya. Guru yang kreatif selalu berupaya mencari alternatif keterbatasan yang ada. Tidak ada akar rotan pun jadi. Tidak ada media pembelajaran yang memadai, guru efektif berupaya mencari media alternatif yang dapat menunjang pencapai hasil belajar. Pro aktif seorang guru yang efektif tidak hanya dalam hal pembelajaran di kelas, di lingkungan sekolah pun mereka pro aktif dalam menjalankan kegiatan sekolah yang lain.
Sikap yang berlawanan dengan pro aktif adalah guru reaktif. Mereka mudah sekali bereaksi dan reaksinya selalu negatif terhadap suatu persoalan. Guru reaktif memandang negatif terhadap suatu kebijakan maupun perubahan. Mereka berprasangka buruk terhadap kebijakan baru yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya. Mereka lebih banyak terbelenggu oleh berbagai persoalan dan tidak bisa mengendalikan persoalan tersebut sebagai sebuah peluang perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu, guru reaktif tidak akan menjadi efektif dalam menjalankan profesinya.
Guru Efketif Memiliki Tujuan yang Jelas
Layang-layang yang putus dari benangnya akan teroambang ambing oleh tiupan angin dan pergi tanpa arah yang jelas tujuannya. Demikian juga halnya dengan manusia, ia akan terombang ambing kehidupannya jika tidak memiliki tujuan hidup. Kehidupannya tidak akan bermakna dan mereka yang tidak mempunyai tujuan, tidak bersemangat dalam menjalani hidup, mereka tidak lebih hanya menjalani hidup ada adanya.
Guru efektif harus memiliki tujuan (visi dan misi) mendidik yang jelas. Mereka tidak hanya asal mengajar untuk menggugurkan kewajibannya sebagai seorang guru. Guru efektif mengajar dan mendidik untuk tujuan tertentu dan memiliki arah tujuan pembelajaran. Visi dan misi utama seorang guru dalam mendidik adalah membangun masa depan bangsa dan negara melalui pendidikan.
Setiap kegiatan pembelajaran memiliki makna dan tujuan akhir yang harus dicapai oleh peserta didik (siswa). Mendidik tidak hanya memberikan dan mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi pendidik harus bertanggung jawab dan memiliki kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran (manager of learning), guru juga harus dapat mengarahkan (director of learning), dan guru juga sebagai fasilitator dan perencana kegiatan siswa (the planner of future society).
Guru yang tidak memiliki tujuan, maka dalam pembelajaranya akan tidak bermakna dan terasa hampa tanpa arah yang jelas. Mereka hanya memandang profesi guru adalah pekerja yaitu “mengajar untuk mendapatkan upah”. Sikap yang demikian dapat berimbas pada hasil pembelajaran. Pembelaaran siswa juga akan tidak terarah dan tidak bermakna sehingga pada akhirnya tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
Guru Efektif Pandai Membuat dan Menentukan Prioritas
Manusia yang efektif bertindak dengan skala prioritas. Dia bertindak tidak sembarangan dan asal bertindak. Tindakannya selalu diarahkan pada tujuan-tujuan yang jelas dan mulia. Dengan skala prioritas, kegiatan manusia lebih terencana dan terarah sehingga tujuan hidupnya dapat tercapai dengan baik sesuai keinginan. Sebaliknya, manusia yang tidak bisa menggunakan skala prioritas tidak akan efektif, targetnya tidak akan tercapai karena mereka tidak dapat menentukan skala prioritas.
Sebagai seorang guru, skala prioritas juga sangat dibutuhkan dalam menentukan arah kegiatannya. Di sela-sela aktivitasnya yang padat, seorang guru efektif akan selalu menemukan skala prioritas kegiatan yang harus didahulukan. Prioritas utama sebagai seorang guru adalah mengedepankan kepentingan masa depan siswanya dalam belajar. Lebih konkrit lagi prioritasnya adalah ketercapaian kompetensi belajar siswa sebagai modal dasar dasar dalam kehiduan siswa di masa depan.
Ketika bertindak sebagai seorang guru, kepentingan siswa adalah yang utama daripada kepentigan pribadi atau kelompok. Tidaklah efektif jika siswa hanya diberi catatan atau disuruh mengerjakan latihan soal, sementara guru melakukan kegiatan untuk kepentigan pribadi yang sebenarnya dapat ditangguhkan.
Guru efektif Berpikir Menang-menang (Win-win)
Dalam kehidupan, dikenal empat pola hubungan yaitu: (1) hubungan menang-kalah (win-los), (2) hubugan kalah-menang (los-win), (3) hubungan kalah-kalah (los-los), dan (4) hubungan menang-menang (win-win). Pola win-los biasa digunakan oleh orang yang memiliki sikap egois. Mereka hanya mengedapankan bagaimana caranya agar menang tanpa memperdulikan bagaimana akibatnya bagi orang lain. Pola hubungan win-los digunakan oleh orang yang minder dan kurang rasa percaya diri. Pola hubungan lose-win dipraktikkan oleh orang-orang yang berputus asa dan tidak berdaya untuk membuat pilihan terbaik. Sedangkan pola win-win banyak digunakan oleh orang yang berpikir efektif.
Seorang guru haruslah memiliki pola win-win (menang-menang). Guru harus optimis terhadap keberhasilannya dalam mendidik. Guru efektif memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemban tugas dan meraih prestasi terbaik bagi siswanya. Namun sikap win-win tersebut tetap mengedepankan kepentingan umum yang berarti tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan pendidikan tanpa mempertimbangan orang lain.
Guru efektif berpikir menang-menang yaitu memiliki rasa percaya diri, tidak minder, tidak putus asa, tidak egois, dan selalu menyeimbangkan antara kepentingan menang dengan kepentingan sekitarnya.
Guru Efektif Selalu Bekerjasama
Guru efektif memiliki prinsip kemitraan dalam melaksanakan tugasnya. Ia tidak memandang dirinya sebagai guru yang paling pinter dan super hebat. Guru efektif selalu berupaya menjalin kerjasama yang baik dengan sesama guru dan sekaligus dengan siswanya. Siswa dipandang sebagai anak yang memiliki potensi dan siswa tidak dipandang sebagai anak yang lemah.
Guru efektif memandang setiap manusia sebagai sosok yang memiliki potensi dan mampu memberdayakan potensinya untuk meraih sukses. Untuk itulah guru efektif selalu memanfaatkan potensi siswa untuk meraih sukses. Melalui kerjasama yang baik antara guru dan siswa, tujuan dan target belajar dapat tercapai dengan baik.
Guru Efektif Memperhatikan Orang Lain
Guru efektif memberikan perhatian yang lebih terhadap siswa dan profesinya sebagai guru. Seorang guru efektif selalu berupaya semaksimal mungkin mencurahkan perhatiannya terhadap perkembanan belajar siswa. Demikian juga halnya dengan profesinya, guru efektif tak henti-hentinya selalu berupaya mengembangkan pola pembelajarannya dengan tetap menjalin hubungan baik dengan pimpinan dan rekan kerjanya.
Guru efektif memiliki keyakinan bahwa jika mereka memperhatikan siswa dan profesinya secara maksimal, maka ia akan mendapatkan perhatian yang sebanding. Prestasi dan penghargaan yang diperoleh seorang guru adalah wujud dari perhatiannya terhadap siswa dan profesinya. Bagi seorang guru efektif, pengabdian dan perhatian terhadap siswa dan profesinya adalah investasi kebaikan. Allah akan membalas segala kebaikan yang telah diperbuat di dunia dan di akhirat.
Guru Efektif Belajar Sepanjang Waktu
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berubah dan berkembang dengan pesat. Guru yang efektif harus selalu berupaya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang. Belajar sepanjang waktu adalah salah satu upaya guru efketif dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya.
Tiada hari tanpa belajar. Guru efektif harus serba bisa dalam segala hal. Mereka tidak ingin ketinggalan informasi karena siswa yang dihadapinya juga memiliki banyak informasi terkini dalam belajar. Sebaliknya, guru yang tidak efektif malas untuk belajar. Mereka menganggap bahwa dirinya sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi.
Akhirnya, apa yang bisa diperbuat seorang guru? Tidak perlu melihat dan membandingkan guru-guru yang belum memiliki sikap dan kebiasaan sebagai guru efektif. Saatnya, introspeksi diri adalah cara terbaik untuk berubah menjadi guru efektif. Untuk menjadi guru efektif, menerapkan 3 M yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai saat ini, dan Mulai dari hal yang kecil. Semoga Allah S.W.T senantiasa memberikan kesempatan dan meningkatkan motivasi guru-guru untuk mejadi guru yang efektif sehingga generasi muda yang mereka didik dapat menjadi manusia yang sutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar